Waktu ganti oli mesin yang tepat untuk mobil, seperti lazimnya pada kendaraan bermotor, biasanya ditentukan oleh jarak atau berapa kilometer yang sudah ditempuh oleh mobil.
Meski demikian patokan jarak tempuh ini hanya berlaku dalam kondisi ideal seperti yang tercantum dalam buku manual: ganti oli mesin mobil sebaiknya dilakukan setiap mencapai jarak 10.000 km.
Kondisi ideal di sini maksudnya ketika mobil tidak melewati rute ekstrem, kemacetan, atau digunakan secara teratur.
Lalu bagaimana dengan mobil yang jarang digunakan? Yang oleh pemiliknya hanya digunakan setiap akhir pekan saja? Apakah ganti oli harus menunggu sampai 10.000 km?
Beberapa teknisi menganjurkan, dalam konteks mobil yang jarang dipakai, maka yang dijadikan patokan bukan lagi kilometer tetapi waktu. Waktu ganti oli yang tepat untuk mobil yang jarang digunakan adalah 6 bulan sekali.
Sementara untuk untuk mobil yang sering digunakan, kerap terjebak macet, dan melibas genangan air, maka jangka waktu ganti oli sebaiknya lebih cepat dari 6 bulan. Sementara patokan jaraknya, sebaiknya di setiap 6.000 – 8.000 km.
Selain jarak dan waktu ganti oli, patokan lain yang bisa digunakan adalah tanda-tanda unik dari mobil. Salah satu tanda yang paling menonjol adalah mesin terasa kasar.
Lazimnya jika kamu sudah lama tak ganti oli, maka hal ini akan terjadi. Mengapa demikian? Karena oli mesin berfungsi sebagai pelumas dan jika kualitasnya sudah menurun, maka itu berarti sudah tiba waktu ganti oli.
Indikator lain adalah warna dan tekstur oli. Jika kamu ingin lebih yakin, kamu bisa mengecek tongkat pengukur oli, menuangkan oli ke tisu, dan memeriksa sendiri dengan tangan tekstur oli. Jika oli sudah menghitam dan teksturnya cenderung encer, maka itu adalah tanda waktu ganti oli.
